NGAWI – Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kabupaten Ngawi sukses menggelar Musyawarah Daerah (Musda) Tahun 2026. Acara yang berlangsung meriah pada tanggal 21 Mei 2026 di Pendopo Wedya Graha Pemerintah Kabupaten Ngawi ini menjadi forum strategis untuk mengevaluasi program kerja, memperkuat konsolidasi organisasi, serta merumuskan arah kebijakan dan program-program taktis ke depan.
Musda ini secara resmi dibuka oleh Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono, menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap peran aktif organisasi kemasyarakatan. Kehadiran Bupati turut didampingi oleh jajaran pengurus LDII dari tingkat provinsi hingga kabupaten, serta tokoh masyarakat setempat, menunjukkan kolaborasi yang erat antara elemen pemerintahan dan masyarakat sipil.
Forum lima tahunan ini bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan sebuah momentum penting. Musda diharapkan mampu menghasilkan rumusan program yang relevan dengan tantangan zaman, sekaligus memastikan roda organisasi berjalan secara efektif dan efisien dalam menjalankan misi dakwahnya.
Evaluasi program kerja yang telah berjalan menjadi agenda utama, meninjau sejauh mana target-target yang ditetapkan sebelumnya telah tercapai dan mengidentifikasi area-area yang memerlukan perbaikan. Konsolidasi organisasi juga menjadi fokus, demi memperkuat struktur internal dan meningkatkan kapasitas anggota LDII di seluruh Kabupaten Ngawi.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Provinsi Jawa Timur, Amrodji, menyampaikan pandangan fundamental mengenai arah dakwah organisasi. Beliau menekankan bahwa LDII menempatkan penguatan nilai kebangsaan dan kerukunan sosial sebagai fondasi utama, jauh sebelum menjalankan aktivitas dakwah yang lebih spesifik.
Pernyataan ini bukan tanpa alasan, Amrodji menggarisbawahi pentingnya stabilitas dan keamanan di tengah masyarakat. Menurutnya, lingkungan yang kondusif adalah prasyarat mutlak bagi setiap kegiatan positif, termasuk dakwah Islam, pendidikan, maupun inisiatif sosial lainnya.
“Kalau wilayah tidak aman, bagaimana bicara dakwah, pendidikan, dan lainnya. Karena itu yang paling utama adalah membangun nilai kebangsaan dan kerukunan,” ujarnya tegas, merangkum esensi dari prioritas organisasi dalam konteks kebangsaan.
Filosofi ini mencerminkan pemahaman mendalam LDII akan dinamika sosial dan pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai payung besar bagi kehidupan beragama. Dengan menempatkan nilai kebangsaan dan kerukunan sebagai pondasi, LDII berupaya membangun masyarakat yang harmonis, toleran, dan saling menghormati.
Lebih dari sekadar retorika, prinsip ini diimplementasikan dalam berbagai program nyata LDII. Organisasi ini secara konsisten mendorong anggotanya untuk aktif dalam kegiatan-kegiatan yang menumbuhkan rasa cinta tanah air, memperkuat persatuan, serta menjalin silaturahmi antarumat beragama dan berbagai komponen masyarakat.
Pelaksanaan Musda X LDII Ngawi ini mencerminkan sebuah transformasi signifikan dalam peran organisasi kemasyarakatan keagamaan. LDII tidak lagi hanya bergerak secara eksklusif di bidang dakwah keagamaan semata, melainkan telah memperluas cakupannya untuk aktif mengambil bagian dalam isu-isu pembangunan yang lebih luas.
Kontribusi LDII kini merambah ke ranah pembangunan sosial, seperti program-program pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, organisasi ini juga terlibat aktif dalam isu lingkungan, melalui kegiatan-kegiatan pelestarian alam dan edukasi kesadaran lingkungan.
Tidak hanya itu, pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi perhatian serius. LDII Ngawi, melalui berbagai inisiatifnya, berupaya mendorong kemandirian ekonomi anggotanya dan masyarakat sekitar, misalnya melalui pelatihan kewirausahaan atau fasilitasi akses permodalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Di tengah tantangan pembangunan daerah dan dinamika sosial yang terus berkembang, sinergi antara pemerintah daerah dan organisasi masyarakat seperti LDII menjadi faktor krusial. Kolaborasi ini dinilai sangat penting dalam menjaga stabilitas sosial, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi investasi, serta memperkuat pembangunan yang berbasis partisipasi aktif masyarakat.
Musda ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga panggung untuk menegaskan komitmen LDII Ngawi dalam mendukung visi pembangunan pemerintah daerah. Dengan sinergi yang kuat, diharapkan tercipta masyarakat Ngawi yang religius, rukun, sejahtera, dan berdaya saing.
Sebagai penutup, Musda LDII Ngawi 2026 menegaskan kembali bahwa kekuatan sebuah organisasi, terutama yang berbasis keagamaan, tidak hanya terletak pada ajaran internalnya, tetapi juga pada kemampuannya untuk beradaptasi, berkontribusi nyata pada keutuhan bangsa, dan menjadi bagian integral dari solusi atas permasalahan sosial yang dihadapi masyarakat luas. Inilah fondasi kokoh untuk dakwah yang berdaya guna dan pembangunan yang berkelanjutan. (LINES NGAWI)
